Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed
Sungguh sangat fatal akibat yang di-timbulkan oleh kaum reaksioner
khawarij akhir-akhir ini. Mereka menyebabkan gambaran Islam sangat
menakutkan di mata manusia. Akhirnya islamophobia menjalar di
masyarakat. Mereka menganggap kalau seseorang bersungguh-sungguh
mempelajari syariat Islam akan menjadi manusia-manusia ekstrim yang
menumpahkan darah manusia, meneror, membikin kerusuhan-kerusuhan serta
pemberontakan-pemberontakan.
Gambaran ini tidak hanya ada di benak orang-orang kafir, bahkan
sebagian kaum muslimin menganggap tidak perlu memperdalam Islam, karena
dikhawatirkan akan mengakibatkan hal-hal di atas.
Sungguh para pengacau khawarij memikul dosa besar atas rusaknya gambaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam ini. Padahal sesungguhnya diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam membawa Islam ini adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. الأنبياء: 107
Dan tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (al-Anbiya’: 107)
Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata tentang ayat ini: “Barang
siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka Allah tuliskan
baginya rahmat di dunia dan akhirat. Adapun orang yang tidak beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka dengan datangnya Rasul
selamatlah dari adzab di dunia, seperti ditenggelamkannya ke dalam bumi
atau dihujani dengan batu.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/222)
Yakni tidak diadzab dengan adzab yang merata seperti kaum ‘Ad, Tsamud
atau seperti kaum Nuh yang ditenggelamkan secara keseluruhan dan
lain-lain.
Oleh karena itu ketika malaikat gunung datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam dalam keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam
terusir dari kaumnya, dilempari dengan batu di Thaif, kakinya
berdarah, duduk di luar kota bersama sepi, bermunajat kepada Allah.
Malaikat itu datang dan berkata: “Aku diutus Allah untuk mentaati
perintahmu. Jika engkau menginginkan agar aku menimpakan gunung ini
kepada mereka aku akan laksanakan.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Ya Allah, berilah hidayah pada mereka karena sesungguhnya mereka belum mengetahui.” (Lihat Shirah Ibnu Hisyam)
Inilah bukti kasih sayang beliau kepada seluruh manusia. Jika beliau
diberi pilihan doa yang maqbul terhadap kaumnya apakah dilaknat dan
diadzab ataukah diberi hidayah, tentu beliau berdoa agar Allah
memberikan hidayah.
Pernah suatu hari beliau didatangi oleh Thufail Ad-Dausi. Dia
berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus menentang dan
menolak dakwah ini. Maka doakanlah agar Allah menghancurkan mereka.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam pun menghadap kilblat mengangkat kedua tangannya. Para shahabat yang ada di situ berkata: “Binasalah Daus!” Ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam mengucapkan doa:
اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ. × 3
Ya Allah, berilah hidayah pada suku Daus dan bawalah mereka kemari. (beliau mengucapkannya tiga kali).
Doa beliau ternyata maqbul. Suku Daus datang berbondong-bondong kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam untuk masuk Islam. (HR. Bukhari dan Muslim).
Demikian pula diriwayatkan dari Muslim dengan sanadnya kepada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwa dia berkata:
قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي
لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً .رواه مسلم
Pernah dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, doakanlah kejelekan bagi musyrikin.” Maka Rasulullah menjawab: “Aku tidak diutus sebagai tukang laknat, melainkan aku diutus sebagai rahmat.” (HR. Muslim).
Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ. رواه الدارمي
“Wahai Manusia, hanya saja aku diutus sebagai rahmat yang diberikan”. (HR. Darimi)
Maka dengan dasar inilah ahlus sunnah wal jama’ah berbeda dengan kaum
reaksioner khawarij dalam menyikapi penguasa yang dhalim. Mereka tidak
menghadapinya dengan kekerasan yang seringkali membawa kerusakan,
pertumpahan darah dan kerugian-kerugian yang lebih besar dari kedhaliman
penguasa itu sendiri.
Ahlus sunnah wal jama’ah mengikuti jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam
yaitu menasehati dan mendoakan agar para penguasa tersebut mendapatkan
hidayah dan taufiq, bukan sebaliknya dengan melaknat atau mencaci-maki
mereka dengan do’a-do’a kejelekan apalagi memberontak.
Berkata Ath-Thahawi Rahimahullah:
“Kami tidak
berpendapat bolehnya memberontak kepada Imam dan pemerintah-pemerintah
kami, walaupun mereka berbuat jahat. Kita tidak mendoakan kejelekan
atas mereka dan tidak mencabut ketaatan terhadap mereka. Kami
berpendapat taat kepada mereka merupakan ketaatan kepada Allah dan
merupakan kewajiban selama mereka tidak memerintahkan pada kemaksiatan
dan kita berdoa untuk mereka dengan kebaikan dan ampunan.” (Al-Aqidah At-Thahawiyah, hal. 47 – 48)
Di antara yang menambah jelas dasar mengapa Ahlus Sunnah sangat
mementingkan perkara ini adalah apa yang diriwayatkan di dalam kitab
As-Sunnah oleh Imam Al-Hasan bin Ali Al-Barbahari Rahimahullah di mana beliau berkata: “Jika
engkau melihat seseorang berdoa kejelekan atas penguasa, maka
ketahuilah kalau dia adalah pengikut hawa nafsu. Dan jika engkau
mendengar seseorang berdoa untuk penguasa dengan kebaikan maka
ketahuilah bahwa dia adalah pengikut sunnah insya Allah”.
Bahkan Fudhail bin Iyadl berkata: “Kalau saja aku memiliki satu doa (yang dikabulkan), niscaya aku tidak akan menjadikannya kecuali untuk penguasa”. (Di-keluarkan oleh Abu Nu`aim dalam Al-Hilyah juz 8 hal. 91)
Dalam riwayat lain, beliau mengatakan:
“Kalau aku berdoa untuk
kebaikanku, maka tidak terkena pada orang lain. Namun, kalau aku
mendoakan penguasa, maka penguasa akan baik dan akan baik pula dengan
kebaikannya pula seluruh kaum muslimin”.
Berkata Ibnu Abdil Barr Rahimahullah :
“Jika tidak memungkinkan untuk menasehati penguasa, maka bersabarlah dan berdoalah”.
Berkata Abu Usman As-Shabuni Rahimahullah:
“Dan mereka
(Ahlus Sunnah, pent) berpendapat untuk berdoa bagi mereka dengan
perbaikan, taufiq, kebaikan, dan adil terhadap rakyat. Dan mereka tidak
berpendapat bolehnya memberontak kepada mereka dengan pedang, walaupun
mereka melihat padanya ada penyimpangan-penyimpangan dari keadilan
kepada kedhaliman, dan kecurangan”. (Aqi-datus Salaf Ashabul Hadits hal. 106)
Berkata Abul Hasan Al-Asy’ari Rahimahullah:
“Ahlus
Sunnah berpendapat untuk berdoa kebaikan bagi para penguasa dan agar
tidak memberontak kepada mereka dengan pedang dan tidak ikut berperang
dalam fitnah”. (I`tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah Ashabul Hadits, hal. 133)
Berkata Abu Bakar Al-Isma’ili Rahimahullah:
“Mereka
(Ahlus Sunnah) berpendapat untuk mendoakan bagi mereka kebaikan dan
agar cenderung kepada keadilan. Dan mereka tidak berpendapat untuk
memberontak kepada mereka dengan pedang. Dan tidak pula untuk ikut
berperang dalam fitnah. Mereka berpendapat untuk memerangi kelompok
penentang bersama imam yang adil jika terdapat syarat-syarat yang
demikian pada mereka”. (I’tiqad A’imatu Ahlil Hadits hal. 75)
Dengan demikian, maka menjatuhkan kehormatan para penguasa, sibuk
mencaci-maik mereka, menyebut aib-aib mereka merupakan kesalahan besar
dan pelanggaran yang fatal yang dilarang oleh syariat yang suci dan
pelakunya tercela. Dan perbuatan yang demikian merupakan bibit-bibit
pemberontakan terhadap para penguasa yang merupakan sumber kerusakan
agama dan dunia sekaligus. (lihat Mu’amatul Hukkam fi Dlauil Kitab was
Sunnah hal. 173)
Berkata Al-Imam Abul Hasan Al-Asy`ari rahimahullah:
“Mereka
(Ahlus Sunnah, pent) sepakat (ijma’, pent) untuk menasehati kaum
Muslimin, berloyal dengan jamaah (daulah, pent) mereka dengan saling
berkasih-sayang di jalan Allah serta berdoa dengan kebaikan bagi para
penguasa-penguasa kaum Muslimin dan berlepas diri dari orang-orang yang
mencela seseorang dari shahabat-shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasalam”. (Risalah Ahlul Atsar, hal. 311)
Berkata Al-Marwazi Rahimahullah:
“Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad, pent) disebutkan tentang khalifah al-Mutawakkil Rahimahullah. Beliau berkata: “Sesungguhnya aku berdoa untuknya dengan kebaikan dan `afiyah.” (Dikeluarkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah Q2/A dengan sanad yang shahih)
Berkata Abu Utsman Sa’id bin Ismail Al-Wa’idh Az-Zahid Rahimahullah:
“…maka
nasehatilah penguasa, perbanyaklah untuknya doa dengan kebaikan dan
petunjuk dengan perbuatan, amalan dan hikmah! Karena sesungguhnya mereka
jika baik, maka akan baik pula para hamba Allah dengan kebaikannya.
Dan hati-hatilah kamu dari berdoa dengan laknat atas mereka karena jika
bertambah pada mereka kejelekan, bertambah pula bencana bagi kaum
Muslimin. Maka berdoalah untuk mereka agar bertaubat dan meninggalkan
kejelekan. Maka akan terangkatlah bencana dari kaum Mukminin.” (Lihat Al-Jami` li Syu’abil Iman oleh Al-Baihaqi juz `13 hal. 99)
Berkata Syaikh Muhammad bin Tsubayyil hafidhahullah:
“Ahlus
Sunnah wal jamaah memperingatkan agar jangan menjatuhkan kehormatan
para penguasa dan merendahkan mereka atau mendoakan kejelekan bagi
mereka, karena sesungguhnya perkara-perkara ini termasuk penyebab
munculnya kedengkian dan hasad antara pemerintah dan rakyat. Dan juga
menyebabkan munculnya fitnah dan pertikaian di dalam barisan umat.” (Al-Adillatus Syar`iyyah fi Bayani Haqqur Ra`i war Ra`iyyah hal. 25)
Diriwayatkan dari Hilal bin Abi Humaid, dia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Ukaim berkata:
”Aku tidak akan mendukung tertumpahnya darah khalifah setelah Utsman selama-lamanya”, kemudian dikatakan kepadanya: ”Wahai abu Ma’bad apakah engkau membantu tertumpahnya darah Utsman?” Ia menjawab: ”Sungguh aku waktu itu ikut menyebutkan kejelekan-kejelekan Utsman dan itu membantu tertumpahnya darah beliau”. (Atsar Shahih, dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam At-Thabaqatul Kubra, juz VI, hal. 115)
Ucapan-ucapan ulama ahlus sunnah di atas seluruhnya membawa hikmah
yang besar yaitu terwujudnya keamanan dan ketentraman dengan tetap
tidak meninggalkan nasehat untuk para penguasa. Inilah rahmat Islam
yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam dan dilanjutkan oleh para ulama ahlus sunnah sepanjang masa.
Sungguh sangat disayangkan gambaran Islam yang indah dan sejuk ini
dikotori oleh perbuatan segelintir orang-orang bodoh yang hanya bermodal
semangat tanpa ilmu.
Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salah Edisi: 86/Th. II 07 Dzulqa’dah 1426 H/09 Desember 2005 M
Sajian Terbaru:
Audio Rekaman
Risalah Dakwah Manhaj Salaf
Kategori Manhaj
Showing posts with label Terorisme. Show all posts
Showing posts with label Terorisme. Show all posts
1/01/2013
Padahal munculnya teror-teror tersebut merupakan buah dari kesesatan yang sudah lebih dulu berurat dan berakar. Maka hanya dengan tindakan re-presif saja, tidak akan meredam apalagi menghentikan praktek-praktek kekerasan berdarah tersebut. Namun harus mencegahnya dengan memberantas kesesatan dan penyimpangan dari akar-akarnya.
Teror Syi’ah
Kita lihat dalam sejarah Islam, gerakan kesesatan Abdullah bin Saba’ yang kemudian dikenal dengan nama As-Sa-ba’iyyah sangat berperan dalam berbagai macam teror dan tragedi berdarah. Sejak terbunuhnya Utsman bin Affan kemudian Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu hingga berbagai macam pemberontakan berdarah yang terjadi setelahnya.
Pemikiran Saba’iyyah ini berkembang menjadi berbagai macam aliran Syiah yang berprinsip mengkafirkan hampir seluruh para shahabat dan pengi-kut mereka, kemudian menghalalkan harta dan darah mereka. Sedangkan dalam politik, mereka berprinsip meng-halalkan darah penguasa yang bukan dari kalangan mereka. Bahkan di antara mereka ada yang menulis buku tentang Umar bin Khathab yang berjudul `Aqdud Durar fisy Syarhi Baqri Bathni Umar yang bermakna “Rangkaian Mutiara dalam Penjelasan Kasus Robeknya Perut Umar”. Dalam buku itu penulisnya berkata: “Inilah salah satu contoh yang menarik yang menjelaskan tentang matinya sang penguasa durjana, pendusta yang banyak berdosa, Umar bin Khathab….”
Demikianlah kesesatan saba’iyyah yang terus pengaruhnya berurat-berakar dan menyebar dari generasi ke generasi yang kemudian memunculkan tidak hanya satu praktek terorisme, tetapi sekian banyak teror disebabkan karena satu pemikiran sesat tersebut.
Bahkan kejadian di masa kita yaitu kekacauan di masjidil Haram yang hampir terjadi tiap tahun, juga dilakukan oleh pengikut aliran Saba’iyah yaitu kaum Syiah Rafidlah dari Iran. Teror yang terbesar terjadi pada tahun 1407 Hijriah. Ketika itu mereka mengadakan demonstrasi, menyebarkan tulisan-tulisan yang memprovokasi masa muslimin. Maka bergeraklah mereka merusak pertokoan, membakar mobil-mobil, hingga terjadi kebakaran besar dan membawa korban yang tidak sedikit. Waktu itu terbunuh dari kalangan Muslimin 402 orang dan delapan puluh lima di antaranya adalah aparat keamanan.
Dua tahun berikutnya yaitu 1409 Hijriah terjadi kembali. Bahkan mereka membawa bahan-bahan peledak. Ini semua dilatarbelakangi oleh dasar pemikiran yang sama yaitu pemikiran Syiah/Rafidhah yang berakar dari Saba’iyah yang membenci para shahabat Nabi dari Abu Bakar, Umar, Utsman serta pengikut mereka dari kalangan para shahabat dan para ulama setelahnya. Mereka menjulukinya sebagai pengkhianat, murtad dan kemudian menghalalkan darahnya. Dasar kebencian inilah yang mengakibatkan terjadinya berbagai macam bentuk teror-teror di tengah-tengah kaum Muslimin.
Teror Khawarij
Berakar dari tragedi pembunuhan Utsman, muncul pula aliran-aliran yang tumbuh karena ketidak-puasan kepada penguasa, di antaranya pemikiran Kha-warij atau kaum reaksioner. Mereka berani menghalalkan harta dan darah kaum Muslimin hanya karena dosa-dosa yang dilakukan oleh para penguasa tersebut. Kita bisa bayangkan, kalau mereka tidak puas dengan orang seperti Utsman ibnu Affan –yang merupakan manusia terbaik setelah Abu Bakar dan Umar– dan menuduhnya telah melakukan korupsi serta lebih mementingkan keluarga dan sukunya, apalagi terhadap para penguasa setelahnya yang tentunya jauh di bawah Utsman bin Affan.
Dengan kesesatan berpikir seperti ini, mereka tidak akan puas dengan para penguasa mana pun dan tidak akan lepas satu penguasa pun dari pengkafiran mereka. Tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa mereka adalah biang kerusuhan sepanjang masa (GPK). Sesuai de-ngan namanya Khawarij yang bermakna “aliran pemberontak”.
Perang saudara yang terjadi di negara-negara Islam atau negara-negara kaum Muslimin juga disebabkan karena pemikiran sesat khawarij ini. Mereka mengkafirkan para penguasa Muslim hanya karena dosa-dosa yang mereka lakukan, bahkan berani mengkafirkan para ulama yang membantah pemikiran mereka. Inilah kesesatan mereka yang memunculkan praktek-praktek terorisme, kerusakan, kekacauan, kerusuhan dan pertumpahan darah yang terus terjadi di mana-mana. Alasan mereka adalah membunuh dan meneror orang-orang kafir, padahal di antara yang terbunuh juga ada kaum muslimin.
Kesesatan dan hawa nafsu mereka tersebut menjadi penghalang mereka untuk mengerti bahwa tidak setiap orang kafir dapat diperangi. Ada sebagian orang kafir yang dilindungi darahnya karena sebagai tamu misalnya, yang terikat perjanjian (kafir mu’ahad), atau orang kafir yang mau tunduk pada pe-nguasa muslim dan membayar jizyah (kafir Dzimmi).
Kesesatan mereka menutup mata mereka untuk membaca ayat Allah Subhanahu Wata’ala berikut:
لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ. (الممتحنة: 8-9)
Allah tidak melarang kalian untuk ber-buat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kalian menjadikan sebagai kawan kalian orang-orang (kafir) yang memerangi kalian karena agama dan mengusir kalian dari negeri kalian dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka seba-gai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (al-Mumtahanah: 8-9)
Hawa nafsu mereka juga mengha-langi mereka untuk membaca hadits yang diriwayatkan Abdullah bin UmarRadhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا. (رواه البخاري في كتاب الجزية والموادعة)
Barangsiapa yang membunuh orang karif mu’ahad tidak akan mencium bau surga, walaupun harumnya tercium dari jarak 40 tahun. (HR. Bukhari)
Ancaman keras ini membantah ucapan salah seorang dari mereka: “Kalau anda melihat video ini, maka aku sudah ada di surga”
Kebodohan mereka ini juga menghalangi mereka untuk memahami hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam tentang orang-0rang kafir yang menjadi tamu atau utusan. Ketika datang dua orang utusan dari Musailaimah al-Kadzab yang mengaku nabi untuk meminta pembagian wilayah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam marah dan berkata:
آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ لَوْ كُنْتُ قَاتِلاً وَفْدًا لَقَتَلْتُكُمَا. (رواه أبو داود)
Aku beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Sungguh kalau aku membolehkan membunuh utusan, niscaya akan aku bunuh kalian berdua. (HR. Abu Dawud)
Demikianlah semua pemahaman sesat dan menyimpang dari relnya, yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sha-habat yang mulia pasti akan membawa kepada pertikaian, perpecahan yang berakhir dengan pertumpahan darah.
Berkata imam al-Barbahari Rahimahullah :
وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأَهْوَاءَ كَلُّهَا رَدِيَّةٌ تَدْعُوْ كُلُّهَا إِلَى السَّيْفِ وَأَرْدَؤُهَا وَأَكْفَرُهَا الرَّوَافِضُ وَالْمَعْتَزِلَةُ وَالْجَهْمِيَّةُ.
“Ketahuilah, sesungguhnya “hawa nafsu” (pemahaman sesat) seluruhnya jelek. Ia seluruhnya mengajak pada pedang (pertumpahan darah). Dan yang paling jelek dan paling kafirnya adalah Syi’ah Rafidlah, Mu’tazilah dan Jahmiyyah. “
Imam Abu Qilabah rahimahullah mengatakan:
مَا ابْتَدَعَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلاَّ اسْتَحَلُّوا السَّيْفَ.
“Tidak seorang pun mengambil pemahaman bid’ah (sesat), kecuali akan berakhir dengan pedang (pertumpahan darah).” (Lihat Syarhus Sunnah Imam Al-Barbahari, point 146)
Demikianlah kesesatan mereka menjadikan mereka teroris. Mereka menggeneralisir seluruh orang kafir, tidak dapat membedakan mana kafir harbi, Mu’ahad atau dzimmi, tidak pula membedakan laki-laki, perempuan dan anak-anak. Bahkan mereka mengkafirkan kaum muslimin dan menghukumi-nya sama dengan kafir harbi.
Maka –wahai orang-orang yang mencintai kebaikan– sesungguhnya pengobatan dan sekaligus pencegahan terhadap penyakit masyarakat yang bernama terorisme ini adalah dengan cara mengembalikan mereka kepada jalan yang benar, jalan akidah yang shahihah yang bersumberkan dari wahyu dan sunnah Nabi, sesuai dengan pemahaman para shahabat dan pengikutnya yang hanya bisa dilakukan dengan kerjasama antara ulama dan umara.
Sungguh sangat disayangkan pada kebanyakan negara-negara Islam atau negara-negara kaum Muslimin menggunakan cara-cara Barat (baca: Yahudi dan Nashrani) –yang jelas-jelas tujuan mereka adalah menghancurkan Islam dan kaum Muslimin– yaitu melakukan tindakan represif dengan mencurigai kaum muslimin, menghalangi dan menekan dakwah Islam secara umum.
Dengan penerapan cara mereka ini, maka yang terjadi adalah kehancuran dan perang sau-dara sesama kaum Muslimin. Atau hi-langnya semangat Islam dari kaum Muslimin. Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un.
Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka yang masih hidup dan mengampuni yang telah mati sia-sia aki-bat salah paham tentang arti jihad ini, amien.
Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 85/Th. II 30 Swawal 1426 H/02 Desember 2005 M
Terorisme Berawal Dari Kesesatan
Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar As-Sewed
Seringkali manusia menyadari baha-yanya sesuatu setelah kejadiannya. Mereka lebih suka mengobati daripada mencegahnya. Demikian pula halnya dengan terorisme, setelah jatuh korban harta dan nyawa, baru mereka berpikir bagaimana mereka menanggulangi wa-bah tersebut.Padahal munculnya teror-teror tersebut merupakan buah dari kesesatan yang sudah lebih dulu berurat dan berakar. Maka hanya dengan tindakan re-presif saja, tidak akan meredam apalagi menghentikan praktek-praktek kekerasan berdarah tersebut. Namun harus mencegahnya dengan memberantas kesesatan dan penyimpangan dari akar-akarnya.
Teror Syi’ah
Kita lihat dalam sejarah Islam, gerakan kesesatan Abdullah bin Saba’ yang kemudian dikenal dengan nama As-Sa-ba’iyyah sangat berperan dalam berbagai macam teror dan tragedi berdarah. Sejak terbunuhnya Utsman bin Affan kemudian Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu hingga berbagai macam pemberontakan berdarah yang terjadi setelahnya.
Pemikiran Saba’iyyah ini berkembang menjadi berbagai macam aliran Syiah yang berprinsip mengkafirkan hampir seluruh para shahabat dan pengi-kut mereka, kemudian menghalalkan harta dan darah mereka. Sedangkan dalam politik, mereka berprinsip meng-halalkan darah penguasa yang bukan dari kalangan mereka. Bahkan di antara mereka ada yang menulis buku tentang Umar bin Khathab yang berjudul `Aqdud Durar fisy Syarhi Baqri Bathni Umar yang bermakna “Rangkaian Mutiara dalam Penjelasan Kasus Robeknya Perut Umar”. Dalam buku itu penulisnya berkata: “Inilah salah satu contoh yang menarik yang menjelaskan tentang matinya sang penguasa durjana, pendusta yang banyak berdosa, Umar bin Khathab….”
Demikianlah kesesatan saba’iyyah yang terus pengaruhnya berurat-berakar dan menyebar dari generasi ke generasi yang kemudian memunculkan tidak hanya satu praktek terorisme, tetapi sekian banyak teror disebabkan karena satu pemikiran sesat tersebut.
Bahkan kejadian di masa kita yaitu kekacauan di masjidil Haram yang hampir terjadi tiap tahun, juga dilakukan oleh pengikut aliran Saba’iyah yaitu kaum Syiah Rafidlah dari Iran. Teror yang terbesar terjadi pada tahun 1407 Hijriah. Ketika itu mereka mengadakan demonstrasi, menyebarkan tulisan-tulisan yang memprovokasi masa muslimin. Maka bergeraklah mereka merusak pertokoan, membakar mobil-mobil, hingga terjadi kebakaran besar dan membawa korban yang tidak sedikit. Waktu itu terbunuh dari kalangan Muslimin 402 orang dan delapan puluh lima di antaranya adalah aparat keamanan.
Dua tahun berikutnya yaitu 1409 Hijriah terjadi kembali. Bahkan mereka membawa bahan-bahan peledak. Ini semua dilatarbelakangi oleh dasar pemikiran yang sama yaitu pemikiran Syiah/Rafidhah yang berakar dari Saba’iyah yang membenci para shahabat Nabi dari Abu Bakar, Umar, Utsman serta pengikut mereka dari kalangan para shahabat dan para ulama setelahnya. Mereka menjulukinya sebagai pengkhianat, murtad dan kemudian menghalalkan darahnya. Dasar kebencian inilah yang mengakibatkan terjadinya berbagai macam bentuk teror-teror di tengah-tengah kaum Muslimin.
Teror Khawarij
Berakar dari tragedi pembunuhan Utsman, muncul pula aliran-aliran yang tumbuh karena ketidak-puasan kepada penguasa, di antaranya pemikiran Kha-warij atau kaum reaksioner. Mereka berani menghalalkan harta dan darah kaum Muslimin hanya karena dosa-dosa yang dilakukan oleh para penguasa tersebut. Kita bisa bayangkan, kalau mereka tidak puas dengan orang seperti Utsman ibnu Affan –yang merupakan manusia terbaik setelah Abu Bakar dan Umar– dan menuduhnya telah melakukan korupsi serta lebih mementingkan keluarga dan sukunya, apalagi terhadap para penguasa setelahnya yang tentunya jauh di bawah Utsman bin Affan.
Dengan kesesatan berpikir seperti ini, mereka tidak akan puas dengan para penguasa mana pun dan tidak akan lepas satu penguasa pun dari pengkafiran mereka. Tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa mereka adalah biang kerusuhan sepanjang masa (GPK). Sesuai de-ngan namanya Khawarij yang bermakna “aliran pemberontak”.
Perang saudara yang terjadi di negara-negara Islam atau negara-negara kaum Muslimin juga disebabkan karena pemikiran sesat khawarij ini. Mereka mengkafirkan para penguasa Muslim hanya karena dosa-dosa yang mereka lakukan, bahkan berani mengkafirkan para ulama yang membantah pemikiran mereka. Inilah kesesatan mereka yang memunculkan praktek-praktek terorisme, kerusakan, kekacauan, kerusuhan dan pertumpahan darah yang terus terjadi di mana-mana. Alasan mereka adalah membunuh dan meneror orang-orang kafir, padahal di antara yang terbunuh juga ada kaum muslimin.
Kesesatan dan hawa nafsu mereka tersebut menjadi penghalang mereka untuk mengerti bahwa tidak setiap orang kafir dapat diperangi. Ada sebagian orang kafir yang dilindungi darahnya karena sebagai tamu misalnya, yang terikat perjanjian (kafir mu’ahad), atau orang kafir yang mau tunduk pada pe-nguasa muslim dan membayar jizyah (kafir Dzimmi).
Kesesatan mereka menutup mata mereka untuk membaca ayat Allah Subhanahu Wata’ala berikut:
لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ. (الممتحنة: 8-9)
Allah tidak melarang kalian untuk ber-buat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kalian menjadikan sebagai kawan kalian orang-orang (kafir) yang memerangi kalian karena agama dan mengusir kalian dari negeri kalian dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka seba-gai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (al-Mumtahanah: 8-9)
Hawa nafsu mereka juga mengha-langi mereka untuk membaca hadits yang diriwayatkan Abdullah bin UmarRadhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا. (رواه البخاري في كتاب الجزية والموادعة)
Barangsiapa yang membunuh orang karif mu’ahad tidak akan mencium bau surga, walaupun harumnya tercium dari jarak 40 tahun. (HR. Bukhari)
Ancaman keras ini membantah ucapan salah seorang dari mereka: “Kalau anda melihat video ini, maka aku sudah ada di surga”
Kebodohan mereka ini juga menghalangi mereka untuk memahami hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam tentang orang-0rang kafir yang menjadi tamu atau utusan. Ketika datang dua orang utusan dari Musailaimah al-Kadzab yang mengaku nabi untuk meminta pembagian wilayah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam marah dan berkata:
آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ لَوْ كُنْتُ قَاتِلاً وَفْدًا لَقَتَلْتُكُمَا. (رواه أبو داود)
Aku beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Sungguh kalau aku membolehkan membunuh utusan, niscaya akan aku bunuh kalian berdua. (HR. Abu Dawud)
Demikianlah semua pemahaman sesat dan menyimpang dari relnya, yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sha-habat yang mulia pasti akan membawa kepada pertikaian, perpecahan yang berakhir dengan pertumpahan darah.
Berkata imam al-Barbahari Rahimahullah :
وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأَهْوَاءَ كَلُّهَا رَدِيَّةٌ تَدْعُوْ كُلُّهَا إِلَى السَّيْفِ وَأَرْدَؤُهَا وَأَكْفَرُهَا الرَّوَافِضُ وَالْمَعْتَزِلَةُ وَالْجَهْمِيَّةُ.
“Ketahuilah, sesungguhnya “hawa nafsu” (pemahaman sesat) seluruhnya jelek. Ia seluruhnya mengajak pada pedang (pertumpahan darah). Dan yang paling jelek dan paling kafirnya adalah Syi’ah Rafidlah, Mu’tazilah dan Jahmiyyah. “
Imam Abu Qilabah rahimahullah mengatakan:
مَا ابْتَدَعَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلاَّ اسْتَحَلُّوا السَّيْفَ.
“Tidak seorang pun mengambil pemahaman bid’ah (sesat), kecuali akan berakhir dengan pedang (pertumpahan darah).” (Lihat Syarhus Sunnah Imam Al-Barbahari, point 146)
Demikianlah kesesatan mereka menjadikan mereka teroris. Mereka menggeneralisir seluruh orang kafir, tidak dapat membedakan mana kafir harbi, Mu’ahad atau dzimmi, tidak pula membedakan laki-laki, perempuan dan anak-anak. Bahkan mereka mengkafirkan kaum muslimin dan menghukumi-nya sama dengan kafir harbi.
Maka –wahai orang-orang yang mencintai kebaikan– sesungguhnya pengobatan dan sekaligus pencegahan terhadap penyakit masyarakat yang bernama terorisme ini adalah dengan cara mengembalikan mereka kepada jalan yang benar, jalan akidah yang shahihah yang bersumberkan dari wahyu dan sunnah Nabi, sesuai dengan pemahaman para shahabat dan pengikutnya yang hanya bisa dilakukan dengan kerjasama antara ulama dan umara.
Sungguh sangat disayangkan pada kebanyakan negara-negara Islam atau negara-negara kaum Muslimin menggunakan cara-cara Barat (baca: Yahudi dan Nashrani) –yang jelas-jelas tujuan mereka adalah menghancurkan Islam dan kaum Muslimin– yaitu melakukan tindakan represif dengan mencurigai kaum muslimin, menghalangi dan menekan dakwah Islam secara umum.
Dengan penerapan cara mereka ini, maka yang terjadi adalah kehancuran dan perang sau-dara sesama kaum Muslimin. Atau hi-langnya semangat Islam dari kaum Muslimin. Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un.
Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka yang masih hidup dan mengampuni yang telah mati sia-sia aki-bat salah paham tentang arti jihad ini, amien.
Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 85/Th. II 30 Swawal 1426 H/02 Desember 2005 M
Subscribe to:
Posts (Atom)
